*Gandeng Pemkab Trenggalek, Dinsos Jatim Bentuk Kampung Inklusi Keempat*

TRENGGALEK- Jumlah Kampung Inklusi di Jatim kini bakal bertambah. Jika sejak diluncurkan tahun 2018, kampung inklusi di Jatim masih terbentuk di tiga daerah, maka tahun ini akan bertambah satu lagi di Kabupaten Trenggalek.

Kampung inklusi keempat itu rencananya berlokasi di Pondok Pesantren (ponpes) Hidayatul Mubtadi’in, Desa Sambirejo, Kab. Trenggalek dan akan dijalankan oleh Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Gunung Kebo.

Pembentukan Kampung inklusi ini disosialisasikan Dinas Sosial Prov. Jatim bersama Dinas Sosial P3A Kabupaten Trenggalek di Desa Sambirejo, Trenggalek, Rabu (26/8/2020).

Sosialiasi dan pembentukan KSM ini dihadiri Kepala Dinas Sosial Provinsi Jatim Dr Alwi, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin dan sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Trenggalek.

Dalam sambutannya, Alwi mengungkapkan, sejak diluncurkan tahun 2018, ada tiga Kampung inklusi yang telah terbentuk di Jatim. Yakni, di Kabupaten Blitar, Kabupaten Situbondo, dan Kabupaten Jombang.

"Kampung inklusi merupakan program rehabilitasi sosial berbasis komunitas yang berfokus untuk penyandang disabilitas," terangnya.

Menurutnya, kampung inklusi juga bisa dimaknai sebagai kampung yang mampu menerima keberagaman secara positif dan kampung yang memberikan ruang gerak, berkembang, serta berpartisipasi aktif sesuai dengan kebutuhannya berdasarkan keragaman dan perbedaan. 

Selain itu, kampung inklusi juga bisa diartikan sebagai tempat di mana semua orang dapat merasakan keamanan, kenyamanan, dan perlindungan yang sama.

“Bisa dikatakan kampung inklusi bukanlah kampung yang dikhususkan untuk penyandang disabilitas, tapi kampung yang menyediakan layanan khusus untuk penyandang disabilitas. Roh dari inklusi adalah mendorong pemenuhan hak yang sama dengan layanan yang stara kepada semua orang termasuk penyandang disabilitas,” jelas mantan Kepala Bakorwil Pamekasan ini.

Dikatakan, saat ini kampung inklusi di Trenggalek telah memberdayakan 28 penyandang disabilitas. Meliputi, seorang disabilitas mental, 10 orang tuna rungu wicara, 9 orang tuna daksa, dan 8 orang reterdasi intelektual. Usia mereka bervariasi, mulai dari 18 hingga 45 tahun. 

“Kami berterima kasih kepada bupati dan jajaran Pemkab Trenggalek yang sangat mendukung kegiatan ini, bahkan kampung inklusi di sini berbasis religius karena berlokasi di ponpes. Ini juga akan punya nilai tersendiri,” ungkapnya.

Melalui bimbingan teknis dan keterampilan KSM, para penyandang disabilitas dibekali dengan keterampilan membuat batik ciprat dan kearifan lokal lainnya yang ada di Kab. Trenggalek. Para instruktur yang didatangkan pun merupakan pakar di bidangnya. Salah satunya adalah instruktur batik ciprat yang berasal dari KSM Kinarsih Blitar.

“Saya yakin dengan sentuhan aspek religiusitas di KSM Gunung Kebo, insya Allah program ini akan berhasil dan para penyandang disabilitas akan hidup layak bersama-sama dengan kita semua,” pungkas Alwi. *(ul)*

Aspirasi Masyarakat

Berikan Suara Anda